Pada 22–29 Agustus 2026, kegiatan Kuliah Lapangan di Bali diselenggarakan dengan mengusung tema “Urban Village Tourism”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Jelajah Arsitektur di Indonesia yang bertujuan untuk mengamati dan memahami hibriditas arsitektur Bali, sebuah fenomena ketika kelestarian budaya tradisional berinteraksi erat dengan tingginya arus globalisasi melalui industri pariwisata, khususnya pada arsitektur hospitality.


Selama delapan hari, mahasiswa mengeksplorasi 17 destinasi yang mencakup ranah tradisional hingga perkembangan arsitektur modern. Eksplorasi objek tradisional dilakukan melalui kunjungan ke desa-desa adat (Desa Tenganan, Desa Penglipuran, dan Desa Kabetan), kawasan sakral pura (Pura Besakih, Pura Uluwatu, serta berbagai pura desa), puri, gereja, hingga berbagai landmark bersejarah di Bali. Sementara itu, pemahaman dari sisi modern dipelajari melalui peninjauan langsung ke sejumlah fasilitas hospitality dan resort, seperti Bali Beach Hotel, Titik Dua, Kemilau Ubud, dan Royal Pita Maha untuk mengamati bagaimana arsitektur modern mengadopsi serta menginterpretasi kembali elemen tradisional Bali. Selain objek riset budaya dan hospitality, mahasiswa juga berkesempatan mengunjungi site construction proyek Aesthetic Clinic di Bali untuk melihat proses perancangan dan konstruksi secara riil di lapangan.



Rangkaian kuliah lapangan ini juga mempererat hubungan akademis dengan Program Studi Arsitektur Universitas Warmadewa. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa mengikuti sesi kuliah umum bersama Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Warmadewa, I Nyoman Gede Maha Putra, S.T., M.Sc., Ph.D. (Pak Mangde), yang memberikan pemaparan mendalam mengenai karakteristik dan dinamika spasial desa adat di Bali.

Melalui pendekatan observasi dan studi lapangan ini, mahasiswa diharapkan dapat mempelajari aspek sosial, budaya, dan perilaku masyarakat yang membentuk ruang arsitektur Bali. Kegiatan ini juga membuka pemahaman mahasiswa terhadap proses transformasi arsitektur hunian tradisional menuju hunian modern, sekaligus melatih kepekaan dalam mengidentifikasi nilai-nilai inti (core elements) yang dipertahankan serta nilai-nilai periferal (peripheral elements) yang mengalami penyesuaian di tengah perubahan zaman.



